- Memantapkan Impian Kuliah di Luar Negeri Sejak Dini
- Menghadapi Tantangan Terbesar: Rasa Minder (Self-Doubt)
- Proses Pengembangan Diri Jauh Lebih Mahal daripada Selembar Sertifikat
- Menjadikan Pengalaman IYEN Sebagai Senjata Utama dalam Esai Kuliah
- Pesan Axell untuk Kamu yang Ingin Kuliah di Luar Negeri
- Siap Ikuti Jejak Axell Bersama IYEN?
Banyak orang sering kali menganggap bahwa siswa yang berhasil diterima di universitas top dunia adalah sosok yang super serius, kaku, dan menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk belajar. Namun, stigma tersebut dipatahkan oleh Axell Septiarisco, seorang alumni program internasional Indonesian Youth Excursion Network (IYEN) Batch 12 Chapter Malaysia.
Siapa sangka, di balik keberhasilannya mengantongi Letter of Acceptance (LoA) dari 7 kampus luar negeri sekaligus (termasuk beberapa kampus yang masuk dalam jajaran Top 7 Asia dan Top 32 Dunia), Axell mengaku dirinya adalah sosok yang santai, easygoing, dan suka bercanda saat masa SMA.
Lantas, apa rahasia Axell bisa meluluhkan hati para admission akademisi di berbagai universitas internasional tersebut? Simak cerita lengkap dan tips berharga dari Axell berikut ini!
Memantapkan Impian Kuliah di Luar Negeri Sejak Dini
Impian Axell untuk melanjutkan studi ke luar negeri sebenarnya berawal dari obrolan ringan bersama sang ayah saat ia duduk di bangku kelas 3 SMP. Sang ayah menyarankan bahwa menempuh pendidikan di luar negeri akan memberikan prospek yang jauh lebih baik untuk masa depannya.
Setelah mempertimbangkannya selama setahun, Axell akhirnya memantapkan diri saat memasuki kelas 10 SMA.
"Alasan utamanya karena aku ingin mengembangkan diri di lingkungan yang benar-benar beda. Aku ingin keluar dari zona nyaman dan ketemu sama orang-orang dari berbagai negara dengan budaya yang berbeda," ungkap Axell.
Bagi Axell, lingkungan internasional bukan hanya tempat untuk mengejar nilai akademik, melainkan sebuah wadah untuk membentuk karakter dan bertumbuh secara personal.
Menghadapi Tantangan Terbesar: Rasa Minder (Self-Doubt)
Melihat lembaran Admission Notice yang berhasil diraih Axell dari kampus-kampus besar seperti The Chinese University of Hong Kong (CUHK), RMIT University, hingga University of Nottingham, banyak orang hanya melihat hasil akhirnya saja. Jarang ada yang tahu bahwa Axell juga sempat melewati proses yang melelahkan dan dipenuhi keraguan.
Tantangan terbesar yang dihadapi Axell bukanlah dokumen yang rumit, melainkan rasa minder terhadap diri sendiri (self-doubt).
"Kadang aku ngerasa kalau achievements yang aku punya belum sebagus applicants lain yang keliatannya punya prestasi yang lebih keren," akunya jujur.
Proses pendaftaran yang panjang mulai dari menyiapkan dokumen, menulis esai untuk personal statement, hingga menghadapi wawancara sempat membuatnya lelah secara mental. Namun, dari proses tersebut ia belajar satu hal penting: setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda, dan usaha yang konsisten dibarengi niat yang tulus pasti akan membuahkan hasil manis pada waktunya.
Proses Pengembangan Diri Jauh Lebih Mahal daripada Selembar Sertifikat
Saat ditanya mengenai faktor terbesar yang membuatnya lolos di 6 kampus luar negeri, Axell secara tegas menjawab bahwa proses pengembangan diri jauh lebih berpengaruh daripada sekadar deretan prestasi di atas kertas.
Universitas-universitas terbaik di dunia tidak mencari "robot" yang mengoleksi ratusan sertifikat tanpa arti. Pihak kampus ingin mengenal sosok nyata di balik angka dan dokumen tersebut.
Menurut Axell, poin-poin yang dicari oleh seleksi kampus luar negeri meliputi:
-
Bagaimana cara calon mahasiswa bertumbuh (self-growth).
-
Bagaimana cara menghadapi tantangan hidup (problem-solving).
-
Nilai-nilai kehidupan (values) yang dipegang teguh.
-
Dampak (impact) nyata yang sudah diberikan kepada lingkungan sekitar.
Menjadikan Pengalaman IYEN Sebagai Senjata Utama dalam Esai Kuliah
Salah satu strategi sukses Axell saat menyusun aplikasi pendaftaran adalah menonjolkan esai yang berisi kontribusi, cerita pengalaman, dan dampak nyata. Di sinilah program Indonesian Youth Excursion Network (IYEN) mengambil peran yang sangat besar dalam meloloskan Axell ke kampus impiannya.
Saat menulis personal statement, Axell menceritakan pengalamannya saat berdiskusi dan berkolaborasi mengenai isu-isu global bersama rekan-rekan delegasi di IYEN Batch 12 Malaysia, khususnya bersama timnya, yaitu Tim 3A Lingkungan: Green Pioneers.
"Aku sempat menyebut program IYEN di dalam esai. Bagaimana program ini mengubah cara berpikir aku dan bagaimana aku menggunakan pembelajaran tersebut untuk memberikan dampak kepada orang lain. Kampus itu ingin melihat proses di balik pencapaian kita, bukan cuma hasilnya," jelas Axell.
Bagi Axell, nilai sejati dari program kepemudaan internasional seperti IYEN bukanlah selembar sertifikat kelulusan program, melainkan networking, wawasan global, kemampuan berkomunikasi, serta transformasi perspektif yang didapatkan selama kegiatan berlangsung.
Pesan Axell untuk Kamu yang Ingin Kuliah di Luar Negeri
Bagi kamu yang memiliki impian serupa tetapi masih merasa belum cukup berprestasi atau miskin pengalaman, Axell memberikan sebuah nasihat yang sangat menyentuh:
"Jangan tunggu sampai ngerasa 'cukup hebat' untuk baru mau mulai mencoba sesuatu. Justru kita harus berani mulai dari bawah. Di saat kamu merasakan kegagalan, di situlah kamu bisa belajar bagaimana cara bangkit untuk menjadi pribadi yang lebih baik."
Ia juga menambahkan agar para pejuang kuliah luar negeri tidak terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain karena hal tersebut tidak akan ada habisnya. Fokuslah pada character development diri sendiri. Mulai dari hal-hal kecil yang kamu pedulikan, bangun pengalamanmu secara bertahap, karena setiap langkah kecil yang diambil hari ini akan menjadi bagian dari cerita besar di masa depan.
Bahkan, jika diberi kesempatan untuk memutar waktu kembali ke masa SMA, Axell mengaku akan tetap memilih untuk bergabung dengan IYEN. Program ini telah membantunya keluar dari lingkungan yang familiar dan menjadi pilar penting yang membentuk dirinya hingga sukses seperti sekarang.
Siap Ikuti Jejak Axell Bersama IYEN?
Kisah Axell Septiarisco membuktikan bahwa pintu kuliah di luar negeri terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berproses, mengembangkan diri, dan berani melangkah keluar dari zona nyaman. Program internasional seperti IYEN siap membantu kamu membangun value diri, memperluas jaringan internasional, dan menciptakan cerita esai aplikasi kuliah yang memukau.
Jangan biarkan rasa ragu menghentikan impian besarmu. Daftarkan dirimu dalam program Indonesian Youth Excursion Network (IYEN) batch terbaru sekarang juga! Kunjungi tautan pendaftaran resmi di halaman utama website kami dan mulailah menulis cerita suksesmu sendiri!
💬 Komentar Penonton (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!